Perkenakan nama saya Nadine Nastiti. Saya
lahir di Jakarta, 7 Mei 1998. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Saya anak
dari pasangan Drg. R. Sudono (almarhum) dan dra. Eny Nuriati. Ayah saya duluya
adalah seorang dokter gigi yang bekerja di dua tempat sekaligus. Almarhum ayah
saya bekerja di Klinik Medistra daerah Cileungsi dan bekerja di Department
Kesehatan RI sebagai Kepala Subdit Kesehatan Gigi dan Mulut. Ibu saya bekerja
di Mabes Polri sebagai PNS. Saya mempunyai adik perempuan yang sedang menduduki
bangku SMA. Adik perempuan saya bernama Nabila Amanda. Adik saya bersekolah di
SMA Negeri 37 Jakarta.
Pada umur 3 tahun saya memulai jenjang
pendidikan pertama saya yaitu memasuki taman kanak-kanak. Pada umur 3 tahun
tersebut saya yang sebetulnya hanya dititipkan karena senang bermain dan
bertemu teman baru justru mulai tertarik untuk ikut belajar. Sejak saat itu
saya memulai pendidikan pertama saya di Taman Kanak-kanak YWKA atau yang leih
sering dikenal taman kanak-kanak milik perkereta apian. Pada tahun 2002/2003
saya lulus dari TK YWKA dengan meraih nilai yang cukup tinggi untuk seorang
anak yang awalnya hanya mau bermain saja. Pada
tahun 2002/2003 orang tua saya yang telah melihat kemampuan saya yang
dapat mengikuti pelajaran pun mendaftarkan saya ke SD 01 Manggarai Pagi. SD
Manggarai 01 Pagi atau yang lebih akrab disebut SD Cibono ini merupakan mantan
sekolah dasar ayah saya dahulu kala. Pertamanya orang tua saya sempat ragu untu
mendaftarkan saya ke SD percontohan ini karena umur saya yang belum mencukupi
persyaratan. Akhirnya orang tua saya juga mencoba menaftarkan saya ke SD
Labschool atau yang lebih dikenal dengan IKIP. Namun dengan melalui beberapa
ujian masuk SD, saya diterima di SD Cibono karena saya dinyatakan telah mampu
mengikuti ujian dan pelajaran dibandingkan anak seumuran atau satu umur diatas
saya . Pada SD umumnya memanggil bapak guru dan ibu guru, namun tidak dengan SD
cibono. SD ini menyebut para guru laki-laki dengan sebutan engku dan guru
perempuan dengan sebutan enci. Ini adalah tradisi yang dilanjutkan turun
temurun.. Pada tahun kelima di SD Cibono, saya mengikuti lomba angklung
nasional di Bandung atau lebih tepatnya diselenggarakan di Bandung Indah Plaza
(BIP). Selama dua bulan berturut-turut saya dan teman-teman berlatih angklung
dan bernyanyi bersama dengan engku Alex. Tepat pada hari pertunjukan kami pergi
dengan bus di pagi hari karena pertunjukkan berlangsung di siang hari. Tidak
sia-sia perjuangan kami. Kami mendapatkan juara 3 tingkat nasional untuk
pertunjukkan angklung. Semenjak memenangkan lomba angklung, tim angkluk sekolah
kami kebanjiran mendapatkan tawaran untuk tampil di beberapa acara.
Pada tahun 2008/2009 saya lulus dari SD
Cibono dengan nilai ujian yang cukup membanggakan hingga dapat mengantarkan
saya masuk ke SMP Negeri 216. Smp Negeri 216 adalah jenjang pendidikan saya
yang ketiga. SMP 216 adalah salah satu SMP paling diminati di DKI Jakarta
karena masuk peringkat 4 besar. Pada tahun pertama di SMP saya mengikuti ekstra
kulikuler tari saman dan inilah salah satu yang menyebabkan saya jatuh cinta
pada tari yang berasal dari Aceh ini. Pada tahun kedua saya mulai mengikuti
paduan suara yang dipimpin oleh Ibu Made. Paduan suara kami sempat beberapa
kali tampil untuk nasional seperti contohnya bernyanyi di acara hari pendidikan
nasional di Departmen Pendidikan, bernyanyi di istana negara dan beberapa acara
lainnya. Mulai sejak itu saya gemar bernyanyi. Pada tahun ketiga saya mendapat
kepercayaan menjadi ketua ujian praktek tata boga atau yang kami sebut ketua
resepsi. Itu merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan menjadi
pembelajaran untuk saya.
Pada tahun 2011/2012 saya lulus dari SMP
dengan hasil nilai ujian yang kurang memuaskan. Pada tahap keempat kegiatan
belajar saya, saya masuk ke SMA Negeri 37 di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Pada awalnya saya menangis karena saya tidak
tau sekolah tersebut, namun pada akhirnya banyak pengalaman tak terlupakan di
masa-masa SMA saya. Pada tahun pertama saya dn teman-teman sukses mejalankan
pentas seni drama yang mengantarkan kami menjadi kelas terbaik dan terkompak.
Setelah itu kami memenangkan lomba fashion show yang hanya bermodalkan sarung
masjid dan peci para OB sekolahan. Pada tahun kedua di SMA, mungkin adalah
salah satu tahun terburuk saya karena saya kehilangan ayah saya. Namun seteah
kepergian ayah saya, saya teringat janji di masa kecil sewaktu duduk di bangku
SD. “Jika kamu berhasil rangking satu, ayah akan berhenti merokok, namun jika
kamu hanya rangking dua, ayah tidak akan behenti merokok” seperti itulah taruhan yang saya dan ayah
saya buat. Sejak mengingat taruhan itu, saya semakin giat belajar untuk
mendaptak rangking satu untuk menepati janji dengan almarhum ayah saya.
Akhirnya saya berhasil mendapatkan rangking satu di semester 5 di SMAN 37. Pada
tahun 2015/2016 saya dinyatakan lulus sekolah dan dapat melanjutkan pendidikan
saya di jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah. Seteah mencoba delapan kali
test, akhirnya Universitas Negeri Jendral Soedirman menerima saya menjadi
mahasiswa barunya di fakultas ilmu-ilmu
kesehatan masyrakat yang telah diresmikan pada tanggal 24 Agustus 2015. Saya
berharap dimasa yang akan datang saya dapat mengukir prestasi di Universitas
Negeri Jendral Soedirman dan dapat lulus dengan IPK sempurna. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar