Kamis, 27 Agustus 2015

AUTOBIOGRAFI



Perkenakan nama saya Nadine Nastiti. Saya lahir di Jakarta, 7 Mei 1998. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Saya anak dari pasangan Drg. R. Sudono (almarhum) dan dra. Eny Nuriati. Ayah saya duluya adalah seorang dokter gigi yang bekerja di dua tempat sekaligus. Almarhum ayah saya bekerja di Klinik Medistra daerah Cileungsi dan bekerja di Department Kesehatan RI sebagai Kepala Subdit Kesehatan Gigi dan Mulut. Ibu saya bekerja di Mabes Polri sebagai PNS. Saya mempunyai adik perempuan yang sedang menduduki bangku SMA. Adik perempuan saya bernama Nabila Amanda. Adik saya bersekolah di SMA Negeri 37 Jakarta.
Pada umur 3 tahun saya memulai jenjang pendidikan pertama saya yaitu memasuki taman kanak-kanak. Pada umur 3 tahun tersebut saya yang sebetulnya hanya dititipkan karena senang bermain dan bertemu teman baru justru mulai tertarik untuk ikut belajar. Sejak saat itu saya memulai pendidikan pertama saya di Taman Kanak-kanak YWKA atau yang leih sering dikenal taman kanak-kanak milik perkereta apian. Pada tahun 2002/2003 saya lulus dari TK YWKA dengan meraih nilai yang cukup tinggi untuk seorang anak yang awalnya hanya mau bermain saja. Pada  tahun 2002/2003 orang tua saya yang telah melihat kemampuan saya yang dapat mengikuti pelajaran pun mendaftarkan saya ke SD 01 Manggarai Pagi. SD Manggarai 01 Pagi atau yang lebih akrab disebut SD Cibono ini merupakan mantan sekolah dasar ayah saya dahulu kala. Pertamanya orang tua saya sempat ragu untu mendaftarkan saya ke SD percontohan ini karena umur saya yang belum mencukupi persyaratan. Akhirnya orang tua saya juga mencoba menaftarkan saya ke SD Labschool atau yang lebih dikenal dengan IKIP. Namun dengan melalui beberapa ujian masuk SD, saya diterima di SD Cibono karena saya dinyatakan telah mampu mengikuti ujian dan pelajaran dibandingkan anak seumuran atau satu umur diatas saya . Pada SD umumnya memanggil bapak guru dan ibu guru, namun tidak dengan SD cibono. SD ini menyebut para guru laki-laki dengan sebutan engku dan guru perempuan dengan sebutan enci. Ini adalah tradisi yang dilanjutkan turun temurun.. Pada tahun kelima di SD Cibono, saya mengikuti lomba angklung nasional di Bandung atau lebih tepatnya diselenggarakan di Bandung Indah Plaza (BIP). Selama dua bulan berturut-turut saya dan teman-teman berlatih angklung dan bernyanyi bersama dengan engku Alex. Tepat pada hari pertunjukan kami pergi dengan bus di pagi hari karena pertunjukkan berlangsung di siang hari. Tidak sia-sia perjuangan kami. Kami mendapatkan juara 3 tingkat nasional untuk pertunjukkan angklung. Semenjak memenangkan lomba angklung, tim angkluk sekolah kami kebanjiran mendapatkan tawaran untuk tampil di beberapa acara.
Pada tahun 2008/2009 saya lulus dari SD Cibono dengan nilai ujian yang cukup membanggakan hingga dapat mengantarkan saya masuk ke SMP Negeri 216. Smp Negeri 216 adalah jenjang pendidikan saya yang ketiga. SMP 216 adalah salah satu SMP paling diminati di DKI Jakarta karena masuk peringkat 4 besar. Pada tahun pertama di SMP saya mengikuti ekstra kulikuler tari saman dan inilah salah satu yang menyebabkan saya jatuh cinta pada tari yang berasal dari Aceh ini. Pada tahun kedua saya mulai mengikuti paduan suara yang dipimpin oleh Ibu Made. Paduan suara kami sempat beberapa kali tampil untuk nasional seperti contohnya bernyanyi di acara hari pendidikan nasional di Departmen Pendidikan, bernyanyi di istana negara dan beberapa acara lainnya. Mulai sejak itu saya gemar bernyanyi. Pada tahun ketiga saya mendapat kepercayaan menjadi ketua ujian praktek tata boga atau yang kami sebut ketua resepsi. Itu merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan menjadi pembelajaran untuk saya.

Pada tahun 2011/2012 saya lulus dari SMP dengan hasil nilai ujian yang kurang memuaskan. Pada tahap keempat kegiatan belajar saya, saya masuk ke SMA Negeri 37 di daerah Tebet, Jakarta Selatan.  Pada awalnya saya menangis karena saya tidak tau sekolah tersebut, namun pada akhirnya banyak pengalaman tak terlupakan di masa-masa SMA saya. Pada tahun pertama saya dn teman-teman sukses mejalankan pentas seni drama yang mengantarkan kami menjadi kelas terbaik dan terkompak. Setelah itu kami memenangkan lomba fashion show yang hanya bermodalkan sarung masjid dan peci para OB sekolahan. Pada tahun kedua di SMA, mungkin adalah salah satu tahun terburuk saya karena saya kehilangan ayah saya. Namun seteah kepergian ayah saya, saya teringat janji di masa kecil sewaktu duduk di bangku SD. “Jika kamu berhasil rangking satu, ayah akan berhenti merokok, namun jika kamu hanya rangking dua, ayah tidak akan behenti merokok”  seperti itulah taruhan yang saya dan ayah saya buat. Sejak mengingat taruhan itu, saya semakin giat belajar untuk mendaptak rangking satu untuk menepati janji dengan almarhum ayah saya. Akhirnya saya berhasil mendapatkan rangking satu di semester 5 di SMAN 37. Pada tahun 2015/2016 saya dinyatakan lulus sekolah dan dapat melanjutkan pendidikan saya di jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah. Seteah mencoba delapan kali test, akhirnya Universitas Negeri Jendral Soedirman menerima saya menjadi mahasiswa barunya di fakultas  ilmu-ilmu kesehatan masyrakat yang telah diresmikan pada tanggal 24 Agustus 2015. Saya berharap dimasa yang akan datang saya dapat mengukir prestasi di Universitas Negeri Jendral Soedirman dan dapat lulus dengan IPK sempurna. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar